Kau pernah berkata
Wanita itu...
Harus disanjung bukan dipijak!
Harus disayangi bukan disakiti!
Harus dicintai
bukan dihina!
Tetapi kenapa...
Wanita menjadi permainanmu
Pemuas nafsu serakahmu
menjadi tempatmu bergantung
agar
kau bisa terus ketawa
agar sakumu terus berisi!
Dan ...
Kau pernah berkata
Wanita tulang belakangmu
kalau
patah, patahlah kamu
Kalau retak, retaklah kamu
Kenapa kau biarkan ia terus menderita?
Lupakah kau akan janjimu?
Lupakah
kau wanita itu penyelamatmu?
Kenapa kau biarkan ia menderita...
Dari satu lorong ke lorong gelap
Dari satu kumbang
ke kumbang jalang
agar hidupmu terus terang
Lupakah kau dia harus kau cintai
harus disayangi
bukan dipermainkan!
Makati,
Manila.
Andai saja
Andai hati ini
Diadun dari besi waja
Dan andai saja hati ini
dari simpulan batu keras membatu
Pasti!
Tiada
maaf bagimu
Dan pasti....
Pintu hati ini tertutup untukmu!
Singapura
November 2003
KAU PERNAH BERKATA...
Kau pernah berkata
Wanita itu...
Harus disanjung bukan dipijak!
Harus disayangi bukan disakiti!
Harus dicintai
bukan dihina!
Tetapi kenapa...
Wanita menjadi permainanmu
Pemuas nafsu serakahmu
menjadi tempatmu bergantung
agar
kau bisa terus ketawa
agar sakumu terus berisi!
Dan ...
Kau pernah berkata
Wanita tulang belakangmu
kalau
patah, patahlah kamu
Kalau retak, retaklah kamu
Kenapa kau biarkan ia terus menderita?
Lupakah kau akan janjimu?
Lupakah
kau wanita itu penyelamatmu?
Kenapa kau biarkan ia menderita...
Dari satu lorong ke lorong gelap
Dari satu kumbang
ke kumbang jalang
agar hidupmu terus terang
Lupakah kau dia harus kau cintai
harus disayangi
bukan dipermainkan!
Makati,
Manila.
November 1999
Aku cuma risau
Aku cuma risau....
Anak anak berkeliaran di kota
Tanpa kenal panas dan hujan
Tanpa tahu apa itu peraturan!
Anak
muda berlepakan dipasaraya
Tanpa arah dan tujuan
Tanpa menghormati adat susila
Tanpa mau tahu esok nanti bagai mana?
Aku
cuma risau....
Kota ini seakan bukan milik kita lagi
Anak watan ketakutan merebut ruang rezeki
Penghuni sering ketakutan!
Rimas!
Terkadang undang undang di tangan mereka!
Berkeliaran terbiar dikota bukan anak kita
Berjaja dipasar bukan
orang kita
Bermaharajalela dikota bukan orang kita
Meraih simpati di jalanan bukan orang kita!
Aku cuma risau...
Kelak
yang memegang jawatan besarpun bukan orang kita
Yang menerajui negeri bukan orang kita lagi
Segala hak kita bakal direbut!
Kita
tinggal berputih mata!
Aku cuma risau...
kelak anak anak kita pula kehilangan hak
Kemerdekaan kita milik orang
luar
dan.....
Anak anak kita nanti
bakal menumpang di negara sendiri!
Argh......
Aku cuma risau
Andai
ini benar berlaku!
Pasar Sinsuran,
Kota Kinabalu.
1/10/2004.
Jangan ada dendam
Kita pernah belayar bersama
Mengharungi gelora di samudera
Kita pernah melangkah bersama
menyelusuri jalan penuh
onak dan duri
Bahtera kita pernah bocor dipukul badai
Kaki kita pernah berdarah di tusuk onak berbisa
Kita pernah
menghirup erti kebahagian
Kita pernah merasa manisnya madu
Kita pernah mengadun mimpi untik sehidup semati
Dan kita
pernah impikan mahligai bahagia bakal milik kita.
Namun panas tidak sampai ke petang
Rupanya hujan di tengah hari
Bahtera
kita tengellam di lautan menganas
Mahligai kita hancur terhempas
Impian kita berkecai sejuta
Dan lalu kita melepaskan
jalinan jari jemari
Membawa langkah berasingan .
Namun jangan ada dendam diantara kita
Jangan ada benci dijiwa
kita
Kerana ini bukan pintaku
Dan bukan jua yang kau mahu.
Bangkok
Julai 2004.